Selasa, 08 Desember 2020

mencintaimu

Pengen sekali-kali nulis tentang kekasih yang belum sepenuhnya terkasihi. Kokbelum? Hehe. Letsgo! 

~~~

Mengenalmu. Tak perlulah aku berlama-lama menatapmu. Sungguh ku sudah merasa lama mengenalmu saat kau terus mengalah akan sikapku yang selalu saja membuat kepalamu pening. 
Jika aku diberi kesempatan menulis puisi untukmu. Akuingin menulis ini. 
Aku ingin terus mengikutimu. 
Seperti angin yang menghembus lembah hutan. 
Aku mencintaimu. 
Seperti lautan bersama ombaknya. 
Aku menyayangimu. 
Seperti riak air terjun pada sungai. 
Aku mengasihimu. 
Seperti sepeda pada rodanya. 
Terimakasih selalu membersamaiku. 
Mencintaimu sungguh ku setiap hari mencari makna cinta yang ada pada dirimu. Semakin ku cari. Semakin dalam perasaanku padamu.
Jika maafku bisa menebus ridhamu. Sungguhlah aku akan mengatakan itu ribuan tahun sepanjang usiaku.
Aku tak mengerti terbuat apa hatimu. Sehinggaku tak menemukan celah amarah meledakmu sepanjang usia pernikahan kita. Padahal aku justeru selalu memancing emosimu. Tapi sia sialah usahaku. Engkau tetap bergeming pada sabarmu seperti daun yang jatuh dari rantingnya. Mengalir terbawa angin dengan tenang.
Aku jatuh cinta pada dirimu yang bersabar atas kelakuanku. Keegoisanku. Kekanak-kanakkanku.
Terimakasih atas sabarmu . 
Seperti riaknya air hujan pada bumi. 
Debumnya ombak pada pantai. 
Semilirnya angin pada udara.
Dan pada setiap ucapanmu, 
"Aku hanya bisa mendoakanmu agar terus bersabar pada anak-anak"

~~~

Kekasihmu yang mengkhawatirkan kesehatanmu. 
Jakarta, 8 des 2020

Senin, 30 November 2020

memilih takdir

Saya termenung setelah membaca novelnya Seseorang. Sayalupa nama pengarangnya. Judulnya "Rindu Ibu"
Betapa gigihnya si ibu dalam mendidik dan merawat 5 anak. Punya anak laki-laki satu2nya. Yang berhasil di kancah profesi.
Saya termenung saat ayah anak2nya meninggal. Suami yang dicintainya meninggal. Dan si ibu berkata "ternyata hidup segini aja"
Saya merenungi kalimatnya. Yang seolah2 hidup sungguh sebentar sekali. Hari ini memperjuangkan pendidikan anak2. Besok memetik hasilnya. Hidup serba enak. Kemudian Allah menyuruhnya pulang.
Kembali. Tanpa bisa mengajak siapapun. Sendiri. 
Saya merenungi hidup ini. Seandainya kita bisa memilih takdir. Pastilah kita hanya ingin yang enak. Pilihansesuai kehendak kita. 
Tapi nyatanya kita ndak bisa memilih. Hanya disuruh menjalani takdir. Bagaimana kita menjalani barulah kita bisa memilih. Memilih menjalani dengan kebaikan atau keburukkan. Dan semua ada konsekuensinya.

"Aku rindu ibu dan aku rindu kesendirianku"

Jumat, 06 November 2020

perihal rejeki anak

Anak pertama. Sungguh banjir hadiah. Krn statusku msh pengajar di salah satu madrasah. Kusenang gembira . 
Anak kedua. Sungguh banjir air mata. Krn statusku yang full IRT. Ga ada circle pertemanan di luar selain keluargaku dan tetangga yg tiap hari bertemu. Selain momen persalinan SC. Hingga ku slalu menyesali keadaan. Kenapa anak ini tak semudah anak pertamaku. Meski penuh drama saat melahirkan si abang S. Tp ketika hari H. Alhamdulillaah abang S spontan lahirnya. Padahal BBnya lbh besar abang S drpd dek S. Lihatlah betapa menderitanya diri ini. Dan ketidakrencanaan kami. Dek S sungguh anak yang kuat. Masyaa Allah. Dan sampai detik ini, kami menemukan qurrota 'ayun ada padanya. Selalu menyenagkan hati kami. Selalu bersabar dan jika menangis hanya sebentar. Cukupdikasih mantra dan pelukan dari kami. Aku atau ayahnya.
Pernah ku celetuk "anak tak diduga nih"
Ayahnya menyambar dg ucapan menohok bagiku. 
"Iya tapi menyenangkan"
Ya Rabb,,, faghfirlii... 
Ku sungguh selalu berucap. "Anak orang kaya nih" Periksa di puskesmas. Lahir di rumahsakit gede. Beda sama shofwan. Periksa di rs gede. Dapet kelas VIp. Tp lahir dipuskesmas. Mungkin benar adanya. Ucapan adalah doa. Setelah dek S lahir. Kami mampu membeli rumah. Meski msh nyicil sisanya kpd pemilik rumah.yg notebenenya mau banget rumahnya kita beli. Semoga bs cepat kelar. 

Ku sungguh sedih krn saat dek S lahir. Tdk ada baju baru. Hny lungsuran dr kakak dan sepupunya. Semua fix bekas. Tp ada beberapa yg ku beli. Lihatlah? Betapa anak sudah diatur rezekinya. Tnpku bekerja. Baju dan perlengkapannnya sudah tersedia. Dapat lungsuran stroller dan baby walker pula. Semua lungsurannya masih bagus. Jarang dipake ceunah.
Selang bbrp bulan dapet lungsuran baju2 gamis dari  adiknya kk ipar. Kondisinya? Jangan tanya. Masih bagus ma syaa Allah. Krn memang beliau "horang kayah".hihi.

 Semua lungsuran tp berasa masih baru.
Dek S. Kusungguh jatuh cinta padamu krn Allah. Darimulah rasa tawakkalku semakin menguat. Bahwasanya rezeki Allah yg ngatur.

Ah iya ku mau kasih kisah kmrn liat tanya jawab ustadz di tivi. 
Q : ustadz, bagaimana menyikapi bhwsnya syurga atau neraka seseorang sdh ditetapkan. Jd buat apa susah payah beribadah? 
A : antum yakin ga rejeki sdh diatur? Trus ngapain kita kerja. Diem aja drumah. Kalo kita yakin rejeki sdh diatur dan kita kerja keras banting tulang buat jemput rejeki itu. Gimanalah dg syurga? Apabedanya dg syurga. Kalo kita ga kerja keras ibadah gimana mau dapat syurga? 
Ini sy bawakan ayat Allah. Allah yg tidak pernah ingkar janji . " Orang2 beriman dan beramal sholih kekal dlm syurga" Apa antum belum yakin? Jd berlelah lelahlah dlm meraih syurga.
*kurg lbh spt itu . Mencerahkan pikiran sy dan suami. Yg saat sy cerita beliau tnyt prnh dtny kyk gt. Tp suami gatau jwbnnya jd cm diem aja.

masakan ber SNI nya mama

Sebelum pandemi. Kuseringnya nginep drumah mama. Meski kecil tp hangat. Namun satu sisi ku jd tak berkembang. Sayapku mengecil disana. Saat pandemi. Aku full disini. Drumahku bersama keluarga kecilku. Memikirkan makan mereka. Buat kue. Meski kuenya tak sesuai standar SNI. Sedap nan indah dipandang. Hehe. Kubuat ala kadarnya. Sesuai bahan yg tersedia. Rasanya? Jangan tanya. Anak2ku semuanya lahap tanpa komentar tidak enak. Pdhl ku yg sbg koki kdg merasa makanan yg dibuat jauh dr standar SNI nya mamaku.
Aku kangen jalan bersama mereka dg kereta.
Kangen ketemu temen2.
Dan kangen segalanya yang beraktivitas di luar rumah. 

Selasa, 18 Agustus 2020

membuat buku

Ide bikin buku sebenarnya udah lama bgt. Waktu itu bikin tulisan cerita pas smp. Udh nulis bnyk bgt  . Eh buku tulisnya ilang. Mgkn krn aku cuekkin. 
Sekarang? Mau bikinnya yg bermanfaat  . Ada ilmunya di dalam. Entah ini terealisasi apa engga. Si ummik udah nanya ke ilustrator tp lumayan mahal. Hiks. Bingung. Ya Allah. Engkau mAha Kaya. Bagi ya Allah. Buat bikin ilustrasinya. 

Rabu, 12 Agustus 2020

anakmu punya perasaan

Jika kita memiliki anak lebih dari satu. Pahamilah posisimu wahai orangtua. 
Jika anakmu yang satu membuat masalah. Jangan lantas kau menghakimi anakmu yang lain. Yang tidak tahu apa masalahmu. 
Anakmu memiliki perasaan. Tanggungjawabmu sama untuk anak yang lain. Jika kamu terlalu mengkhawatirkan anakmu yang satu. Bukankah kekhawatiran itu harusnya sama dengan anakmu yang lain? 
Tidak lebih. Tidak kurang. Sama.
Bantulah ia. Paling tidak pahami perasaannya. Hargai usaha mereka untuk berbakti padamu. Meski dengan bakti sedikit yang kamu lihat. 
Jika ia tidak bisa membantumu. Paling tidak dia sdh berusaha untuk tidak merepotkanmu dengan segudang problem hidupnya. Menjaga perasaanmu untuk tidak menguraikan masalahnya di hadapanmu. 

Semoga Aku tidak menjadi orangtua yang lalai akan tanggungjawabku pada anak-anakku kelak. 
Kelak aku akan mendekap mereka dengan sekuat tenaga. Tidak menyusahkan hidup mereka. Memghargai usaha mereka. Memahami perasaan mereka. 

Kamis, 06 Agustus 2020

merancang masa depan

Jika banyak orang merancang masa depan dengan karir. Itu tidak bagiku. Aku tertegun belakangan ini. Sering menatap anak-anak. 
Siapakah masa depanmu? 
Ya. Anak2. Doa2 itu akan mengalir deras dr lisan anakmu. Saat mereka berdoa. Rabbighfirlii wali walidayya....... 
Apa yang diharapkan dari amalan kita? Barangkali amalan banyak kita hanya sedikit yang diterima. 
Mulut2 mungil itu akan senantiasa ikhlas mengalir tanpa kita suruh. Mulutnya otomatis mengucap setelah selesai sholat.

Tidakkah kita berminat memiliki masa depan itu?